Minggu, 30 Mei 2021

Psikologi Keberbakatan

 



    Pengertian keberbakatan berkemban dari abad abad ke abad, mulai sebelum abad ke18 sampai abad ke-20.Pada bangsa Cina (500 SM), yang dikatakan anak yang memiliki keberbakatan adalah mereka yang memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca, kepemimpinan, imajinasi, ingatan, berpikir dan kepekaan perceptual. Berbeda dengan bangsa Sparta, keberbakatan ditujukan kepada mereka yang menguasai seni tempur dan kepemimpinan militer. Kemudian pada bangsa Yunani keberbakatan ditujukan pada orang yang memiliki penguasaan dalam membaca, menulis, berhitung, sejarah, seni dan kebugaran fisik. Sementara itu di kerajaan Ottoman yang ada di Turki, mengartikan keberbakatan ditujukan kepada orang yang paling gagah, paling pandai, dan paling terampil yang diproyeksikan akan berhasil menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan.

      Renzulli menyatakan seseorang disebut berbakat apabila memiliki tiga klaster, yaitu: (a) kemampuan di atas rata-rata (b) komitmen terhadap tugas yang tinggi, serta (c) kreativitas yang tinggi. Masing masing klaster digambarkan oleh Renzulli dengan lingkaran dan pada bagian tertentu saling bertemu. Pertemuan menunjukkan sesuatu oleh Renzulli disebut keberbakatan. 


              







    Istilah tentang anak berbakat, telah dikemukakan oleh Plato lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Plato menggambarkan bahwa pada masa itu ada sekelompok orang yang disebut berbakat, dan mereka ini adalah merupakan Men of gold. Adapun mereka yang termasuk dalam kelompok "manusia emas" ini adalah orang yang mempunyai taraf intelektual superior. Tujuan dari klasifikasi tersebut adalah untuk mencari bibit unggul dan kemudian diberikan suatu pendidikan khusus, sehingga mereka mampu untuk menjadi pemimpin yang diunggulkan. Pada masa lalu berbakat diartikan sebagai orang yang mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi, jadi dilihat dari skor yang diperoleh dari tes inteligensi.
Secara tradisional pengertian tentang keberbakatan adalah mendasarkan inteligensi umum (general intelligence) sebagaimana yang diukur oleh tes inteligensi.

    Gifted and talented children adalah anak yang diidentifikasi oleh orang-orang yang berkualifikasi profesional sebagai anak yang memiliki kemampuan luar biasa. Mereka menghendaki program pendidikan yang sesuai atau layanan melebihi sebagaimana diberikan secara normal oleh program sekolah regular, sehingga dapat merealisasikan kontribusi secara bermakna bagi diri dan masyarakatnya.Gifted atau cerdas istimewa, merupakan istilah yang diberikan untuk menjelaskan kondisi seseorang yang memiliki kemampuan atau potensi melakukan sesuatu jauh di atas rata-rata dari orang seusianya. Dengan batasan IQ di atas 130, dengan kreativitas, motivasi dan ketahanan kerja yang tinggi. Adapun talented atau berbakat istimewa, tidak mengacu pada batasan inteligensi di atas 130. Namun, talented mempunyai salah satu atau beberapa bidang prestasi yang menonjol, yang melebihi rata-rata, yang tidak selalu dalam bidang akademis.

    Guru berperan untuk mengidentifikasi sumber stres dan berbincang-berbincang mengenai kesulitan yang dihadapi oleh siswa gifted. Pada permasalahan hubungan dengan sebaya, guru BK (Bimbingan Konseling) membuat terobosan yang baik berupa menampung keluh kesah para siswa di kelas CI (Cerdas Istimewa) melalui akun media sosial. Selain adanya media sosial, BK memberikan materi-materi yang bertujuan untuk mengkaji permasalahan-permasalahan yang mungkin dihadapi oleh siswa yakni memberikan bimbingan sosial, bimbingan karir, serta bimbingan bagi siswa yang memiliki kesulitan belajar.

 




    keberbakatan secara sederhana adalah sebuah keadaan dimana seseorang memiliki kemampuan diatas rata-rata, kreativitas tinggi, serta memiliki pengikatan diri atau tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan bakat anak, dimana keluarga menjadi titik awal yang mengerti dan paham pola perkembangan sang anak. Dalam pendidikan berdiferensiasi ini memungkinkan siswa mewujudkan dan mengembangkan bakatnya dan mampu mengembangkan pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki. kurikulum berdiferensiasi adalah suatu proses memodifikasi atau adaptasi kurikulum sesuai dengan tingkat kemampuan siswa yang berbeda dalam satu kelas. kurikulum berduferensiasi membuat peserta didik lebih bisa memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya. untuk meningkatkan kreatifitas dan keberbakatan, guru didalam mengajar bisa melakukan modifikasi terhadap 5 unsur kegiatan belajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan, dan evaluasi. sedangkan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyelenggara pembelajaran berdiferendiasi meliputi perpustakaan dan penyediaan alat pengajaran yang terdiri atas laboratorium atau workshop yang memadai, jadwal pelajaran yang fleksibel, pengembangan program independet study, pengembangan program penyuluhan dan bimbingan, dan pengembangan team teaching. 

Masalah yang dihadapi dan Cara Mengatasinya 


 

    Dalam pengertian yang lebih luas, individu yang berprestasi kurang (underachiever) adalah individu yang tak bermotivasi. Mereka secara konsisten tidak menunjukkan usaha, bahkan mereka cenderung bekerja jauh di bawah potensinya. Masalah yang dialami Anak Underachiever (Aprilnayendi, 2015) Menemukan secara berulang-ulang konsep diri yang negative (1) Merasa tidak diterima keluarga (2)Tidak bertanggung jawab terhadap perilakunya (3) Menantang pengaruh yang diberikan oleh oranglain (4) Merasa jadi korban (5) Memiliki sikap negatif terhadap sekolah (6) Memiliki motivasi dan keterampilan akademik yang lemah (7) Kurang dalam penyelesaian intelektual (8) Berpegang teguh pada status kepemimpinan yang rendah (9) Tidak memiliki hobi, minat dan kreativitas yang dapat digunakan dalam mengisi waktu luang (10) Tidak mampu berpikir dan merencanakan masa depan. “Anak dengan motivasi belajar rendah adalah anak yang tidak memiliki dorongan dalam diri dalam melakukan kegiatan belajar dan tidak adanya arahan perbuatan belajar serta proses yang memberi semangat, sehingga anak tersebut tidak dapat mencapai tujuan yang dikehendaki.”Ciri-Ciri Motivasi Belajar Rendah (suhaimin) ;(Jarang mengerjakan tugas, mudah putus asa, kurang ada dorongan dalam diri, kurang semangat belajar, tidak senang memecahkan soal-soal, tidak mempunyai tujuan dalam belajar.)

 




    Kebutuhan pendidikan anak ditinjau dari minat anak pengembangan itu sendiri, yaitu yang berhubungan dengan potensinya yang hebat. Untuk mewujudkan potensi hebat itu, anakanak mempunyai peluang untuk mencapai aktualisasi potensi yang dimilikinya dengan menggunakan fungsi otak, peluang untuk membangun kreativitas dan motivasi internal untuk belajar berprestasi. Dari segi kepentingan masyarakat, anak yang membutuhkan kepedulian, pengakomodasian, perwujudan lingkungan yang kaya dengan pengalaman, dan layanan anakanak untuk berlatih secara nyata. Menurut Baum, 2007 (dalam Yaumi & Ibrahim, 2013) anak dengan twice exceptionality sebagai individu muda yang sama seperti anak-anak berbakat lainnya, memiliki pengetahuan yang luas, intelegensi yang tinggi dan memiliki bakat dalam hal-hal tertentu. Kemudian menurut Olenchack dan Owen, 2007 (dalam Yaumi & Ibrahim, 2013) menjelaskan anak-anak dengan twice exceptionality sebagai anak-anak yang berbakat dan memiliki tingkat kreativitas yang tinggi, namum selalu diikuti oleh kesulitan dalam memberikan perhatian. Anak-anak berbakat dengan keluar biasaan ganda atau sering disebut dengan dual exceptionality/twice exceptionality yang sudah dijelaskan sebelumnya merupakan anak berbakat yang pada saat bersamaan juga diidentifikasi sebagai anak yang memiliki kebutuhan khusus. Mereka memiliki kualitas keistimewaan yang tinggi tetapi diikuti oleh kesulitan-kesulitan dalam belajarnya. Namun menurut Baum dalam Zaitun (2017) anak yang twice esceptionally yang juga memiliki kebutuhan lain seperti tuli dan buta tidak dapat dikategorikan sebagai kesulitan belajar selama kekurangan tersebut tidak tidak menghambat anak untuk mencapai prestasi akademis yang tinggi ataupun menghasilkan karyakarya yang luar biasa.

 



    Kemampuan dasar atau bakat yang luar biasa yang dimiliki seorang anak memerlukan serangkaian perangsangan (stimulasi) yang sistematis, terencana dan terjadwal agar apa yang dimiliki, menjadi actual dan berfungsu sebaik-baiknya, membiarkan seorang anak berkembang sesuai dengan asas kematangan saja akan menyebabkan perkembangan menjadi tidak sempurna dan bakat-bakat uang luar biasa yang sebenarnya mempinyai potensi untuk diperkembangkan menjadi tidk berfungsi.  Lingkungan keluarga yang dibutuhkan adalah lingkungan keluarga yang kondusif, yang mampu memberikan pengalaman, merangsang rasa ingin tahu, sekaligus menyediakan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam menemukaan jawaban. Dalam hal ini, orang tua perlu mengidentifikasi potensi yang dimiliki anaknya. Wahab (Racmat Wahab, 2005) terdapat enam peranan orang tua terhadap keterbakatan anak yaitu: (1) sebagai pendidik (2) sebagai guru (3) sebagai motivator (4) sebagai supporter (5) sebagai fasilitator (6) sebagai model. MEMBERI TANTANGAN PADA ANAK BERBAKAT: a. Bantu anak untuk mampu berpikir kreatif dalam memecahkan masalah b. Bantu anak untuk menguasai konsep materi yang diajarkan c. Beri kesempatan untuk menunjukkan potensi anak.


 Teori Howard Gardner tentang multiple intelligences memanfaatkan aspek kognitif dan perkembangan psikologi, antropologi, dan sosiologi untuk menjelaskan kecerdasan manusia Teori ini diperkenalkan pada tahun 1983, dalam buku Gardner, Frames of Mind. Yang mendasari pemikirannya adalah berawal dari kegelisahan Howard Gardner. Menurutnya selama ini para pendidik telah melakukan kekeliruan karena menganggap tes kecerdasan atau tes IQ adalah satu-satunya ukuran yang paling dapat dijadikan patokan untuk mengukur kecerdasan seseorang. Menurut Gadner, kecerdasan manusia juga harus dinilai berdasarkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidup, kemampuan menemukan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan atau dicari solusinya, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan memberikan penghargaan dalam budaya seseorang.
    Menurut teori kecerdasan majemuk, seperti yang diungkapkan oleh Thomas Armstrong (2005: 19), kecerdasan linguistik atau word smart adalah suatu kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, menurut Thomas Armstrong, memperlihatkan bahwa kecerdasan linguistik ini mencakup sedikitnya dua pertiga bagian dari interaksi belajar-mengajar yang mencakup kegiatan membaca dan menulis. Dalam dua kegiatan tersebut (membaca dan menulis), terdapat cakupan luas kemampuan linguistik karena termasuk di dalamnya mengeja, kosakata, dan tata bahasa. Selain itu, kecerdasan linguistik juga berkaitan dengan kemampuan berbicara. Dalam hal ini, kecerdasan linguistik nampak pada para orator, pelawak, selebriti radio, atau politisi yang sering menggunakan kata-kata untuk memanipulasi dan mempengaruhi.
    Kecerdasan logika-matematika adalah kemampuan ilmiah untuk memahami suatu konsep dan secara prosedural menghubungkan pola-pola abstrak dalam memecahkan suatu masalah. Secara sederhana disebut Kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, kecerdasan logika-matematika tidak hanya terbatas pada matematika saja, tetapi juga mencakup kemampuan ilmiah dalam bidang lainnya. Kecerdasan logika-matematika dapat dikembangkan menggunakan semua mata pelajaran di sekolah, tidak terbatas pada mata pelajaran matematika saja. Mencermati hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa aktivitas untuk mengembangkan kecerdasan logika matematika sangatlah luas dan tidak terbatas pada mata pelajaran matematika
    Kecerdasan visual-spasial  adalah kemampuan untuk membayangkan suatu hasil akhir, berpikir sistematis, mengimajinasikan sesuatu, memahami konsep arah, dll. Kecerdasan visual-spasial berkaitan dengan kemampuan menangkap warna, arah, dan ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya tersebut ke dalam bentuk lain seperti dekorasi, arsitektur, lukisan, patung. Anak-anak yang memiliki potensi kecerdasan visual-spasial tinggi memperlihatkan kemampuan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak yang lain dalam hal, misalnya menciptakan imajinasi bentuk dalam pemikirannya, atau kemampuan untuk menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi seperti dijumpai pada orang dewasa sebagai pemahat patung atau arsitek suatu bangunan.


Dr. Howard Gardner, seorang psikolog dan profesor ilmu saraf dari Universitas Harvard, mengembangkan teori Multiple Intelligences (MULTIPLE INTELLIGENCE) pada tahun 1983. Harold Gardner, telah mengidentifikasi tujuh jenis intelijen. Ini termasuk linguistik, logika / matematika, verbal / spasial, musikal, tubuh / kinestetik, kemampuan interpersonal, dan intrapersonal Konsep terdistribusi kecerdasan dalam teori Gardner tentang Kecerdasan Ganda yang meliputi kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musical dan kecerdasan interpersonal.Kecerdasan dapat didefinisikan sebagai : kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata; kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan, kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.

Teori MULTIPLE INTELLIGENCE adalah teori fungsi kognitif dan menurut Howard Gardner, Multiple Intellegences memiliki karakteristik yang berbeda sebagai berikut:

  1. Setiap orang memiliki kapasitas kecerdasan
  2. Setiap orang mampu mengembangkan kecerdasan
  3. Kecerdasan bekerja secara kompleks
  4. Kecerdasan itu bertahap

Menurut Gardner, kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Kecerdasan Kinestetik-jasmani memungkinkan individu menggunakan seluruh atau sebagian tubuh untuk berkreasi dalam mengahasilkan sebuah produk atau memecahkan masalah. Kecerdasan Musikal adalah kemampuan mempersiapkan, membedakan dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini melibatkan kepekaan ritme, melodi, dan bunyi musik lainnya dari sesuatu ciptaan musik. Kecerdasan Interpersonal adalah suatu kemampuan individu dalam mengamati dan memahami maksud, motivasi, dan perasaan orang lain. Peka terhadap ekspresi wajah, suara, dan gerakan tubuh orang lain serta mampu berkomunikasi secara efektif. Kecerdasan Interpersonal ini dapat masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan biasanya mampu memimpin dalam sebuah kelompok.



Teori Multiple Intelligences adalah teori kecerdasan yang membedakan kecerdasan menjadi lebih spesifik, dibandingkan dengan sebelumnya yang melihat kecerdasan sebagai kemampuan umum, sehingga sering disebut sebagai “factor g”.  Gardner mengidentifikasikan bukan dua kecerdasan (verbal dan numerikal), akan tetapi sembilan kecerdasan yang berbeda, yaitu: Linguistik, Logika matematika, Spasial, Kinesthetik-jasmani, Musikal, Interpersonal, Intrapersonal dan Naturalis. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami maksud dan perasaan orang lain sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal penting dalam kehidupan manusia karena pada dasarnya manusia tidak bisa menyendiri

Karakteristik orang yang memiliki kecerdasan interpersonal

-          Belajar dengan sangat baik ketika berada dalam situasi yang membangun interaksi antara satu dengan yang lainnya.

-          Semakin banyak berhubungan dengan orang lain, semakin merasa bahagia.

-          Sangat produktif dan berkembang dengan pesat ketika belajar secara kooperatif dan kolaboratif.

-          Ketika menggunakan interaksi jejaring sosial, sangat senang dilakukan dengan chatting atau teleconference.

Kecerdasan naturalis adalah keahlian mengenali dan mengkatagorikan spesies yaitu flora dan fauna di lingkungan sekitar, mengenali keberadaan spesies, memetakan hubungan antar spesies. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan pada fenomena alam lainnya(misalnya:formasi awan dan gunung-gunung), dan bagi mereka yang dibesarkan di lingkungan perkotaan, kemampuan membedakan benda tak hidup, seperti mobil, sepatu karet, dan sampul kaset cd, dan lain-lain.

Menurut Gardner, kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Menurut Gardner, inteligensi ini menyoroti kemampuan untuk menggunakan seluruh badan (atau bagian dari badan) dalam membedakan berbagai cara, baik untuk ekspresi gerak (tarian, akting) maupun aktivitas bertujuan (atletik). Atlet, ahli bedah, penari, koreografer, dan pengrajin semuanya menggunakan kecerdasan tubuh-kinestetik. Kecerdasan Musikal adalah kemampuan mempersiapkan, membedakan dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini melibatkan kepekaan ritme, melodi, dan bunyi musik lainnya dari sesuatu ciptaan musik. Termasuk dalam kecerdasan ini adalah memiliki kemampuan pemahaman musik, baik pemahaman dari atas kebawah atau sebaliknya ataupun kedua-duanya (global ataupun intuitip, ataupun dalam analitik dan teknikal).

Menurut Thomas Armstrong, kecerdasan linguistik atau word smart adalah suatu kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, menurut Thomas Armstrong, memperlihatkan bahwa kecerdasan linguistik ini mencakup sedikitnya dua pertiga bagian dari interaksi belajar-mengajar yang mencakup kegiatan 184 membaca dan menulis. Selain itu, kecerdasan linguistik juga berkaitan dengan kemampuan berbicara. Dalam hal ini, kecerdasan linguistik nampak pada para orator, pelawak, selebriti radio, atau politisi yang sering menggunakan kata-kata untuk memanipulasi dan mempengaruhi.

Kecerdasan Logika-Matematika menurut Yaumi (2012) adalah kemampuan yang berkenaan dengan rangkaian alasan, mengenal pola-pola dan aturan. Kemampuan ini sering disebut berpikir kritis.

    Kecerdasan visual-spasial adalah kemampuan untuk membayangkan suatu hasil akhir, berpikir sistematis, mengimajinasikan sesuatu, memahami konsep arah, dll. Kecerdasan visual-spasial berkaitan dengan kemampuan menangkap warna, arah, dan ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya tersebut ke dalam bentuk lain seperti dekorasi, arsitektur, lukisan, patung.

PENERAPAN METODE YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK PENELUSURAN ANAK BERBAKAT



    Pengertian identifikasi Merupakan satu proses mengenali anak-anak yang memiliki kemampuan motivasi, konsep diri, dan potensi kreativitas yang berada jauh diatas rata-rata. Proses pengumpulan informasi/data tentang penampilan individu yang relevan untuk pembuatan keputusan. Alat-alat yang digunakan dalam identifikasi berfokus pada beberapa hal, seperti yang dikemukakan oleh Kirk (1986), yaitu kelancaran (kemampuan untuk memberikan jawaban bagi pertanyaan yang diberikan), kelenturan (kemampuan untuk memberikan berbagai macam jawaban atau beralih dari satu macam respons ke respons yang lain), dan kemurnian (kemampuan untuk memberikan respons yang unik dan layak). Namun, hal-hal yang ditemukan oleh guru, orang tua, perlu dicek dengan tes standar dan pengukuran kemampuan objektif lainnya oleh para ahli dalam bidang tersebut.

    Dalam identifikasi, memiliki prinsip dilakukan secara multidimensional dengan cara pengukuran yang beragam, mengukur bakat khusus, identifikasi potensi (yang belum tampil), serta mengukur aspek lain (perkembangan sosial, emosional, minat, motivasi). Salah satu cara yang digunakan untuk mengidentifikasi apakah anak atau siswa merupakan anak yang berbakat dapat dilakukan oleh Psikolog dengan cara Assesment. Untuk melakukan sebuah Assesment terlebih dahulu dilakukan screening, setelah mengetahui hasil dari screening tersebut selanjutnya baru dilakukan assessment baik terkait dengan kemampuan kecerdasan umum, bakat skolastik dan bakat lainnya, maupun tingkat kreativitas dan komitmen akan tugas. Assessmen dilakukan dengan menggunakan tes dan instrumen terstandar, di antaranya digunakan tes inteligensi, tes bakat skolastik, tes bakat, tes kreativitas, dan inventori komitmen akan tugas. Sebagian besar tes tersebut lebih bersifat individual.

    Professional guru, ; Guru profesional adalah guru yang dapat mencerdaskan para siswanya sesuai dengan potensi atau kemampuannya. Guru adalah ujung tombak dalam pembelajaran dan sangat besar peranannya dalam ikut menghantarkan keberhasilan para peserta didik. Guru profesional bukan guru yang hanya mampu menguntungkan dirinya namun siswanya tidak. Untuk itu, seorang guru memiliki kemampuan mengidentifikasi dan mengenali kemampuan peserta didiknya merupakan kewajiban yang sangat penting.

    Menurut Swassing (1985), identifikasi mempunyai dua konsep yaitu konsep penyaringan (screening) dan identifikasi aktual (actual identifikcation). Mengidentifikasi masalah berarti mengidentifikasi suatu kondisi atau hal yang dirasa kurang baik. Masalah pada anak ini diperoleh dari keluhan-keluhan orang tua dan keluarganya, keluhan guru, dan bisa didapat dari pengalamanpengalaman lapangan, Seperti dikatakan oleh Norman D.Sundberg (2002) dalam Tin Suharmini (2005). ”Gathering informastion to be used for treatment (parents teachers,and physician) provide data on the childs functioning”. Identifikasi dapat dilakukan oleh orangorang yang dekat (sering berhubungan/bergaul) dengan anak, seperti orang tuanya, pengasuhnya, gurunya, dan pihak-pihak lain. Dalam rangka pendidikan inklusi, kegiatan identifikasi anak dengan kebutuhan khusus dilakukan untuk lima keperluan, yaitu: penjaringan (screening) pengalihtanganan (referal)  klasifikasi perencanaan pembelajaran pemantauan kemajuan belajar.


FINLANDIA

    Di sekolah Finlandia, anak berbakat berhak untuk mulai bersekolah satu tahun lebih awal dari biasanya jika diperlukan untuk belajar (UU No. 628 §27). Selain itu, siswa dapat menerima pengajaran dalam mata pelajaran selain yang ditentukan dalam kurikulum nasional. Studi ini sebagian bisa bersifat sukarela (UU No. 628 §11). Di dalam sekolah, Finlandia menawarkan berbagai ketentuan yang dapat dimanfaatkan oleh siswa berbakat. Orang tua dapat memutuskan apakah anak mereka akan mulai atau tidak sekolah pada usia enam atau tujuh tahun, melompat-lompat kelas, berbagi kelas dengan nilai yang lebih tinggi, akselerasi berdasarkan kelompok, lokakarya, kerjasama dengan perusahaan atau organisasi nirlaba, ekstra kurikuler kegiatan, mentor individu dan belajar mandiri.

SPANYOL

    Kursus khusus tentang pendidikan berbakat menjadi kewajiban di dasar kurikulum untuk pelatihan guru dan pelatihan psikolog. Selain itu, adanya program pelatihan guru tetap diperlukan, untuk mengkomunikasikan pengajaran didaktik keterampilan sehingga guru mampu memenuhi keragaman di kelas. Kurikulum khusus dan materi sekolah untuk anak-anak berbakat untuk dikembangkan. Jenis ketentuan khusus seperti "berbagi kelas dengan nilai yang lebih tinggi", "berdasarkan kelompok percepatan ". Program dan bekal untuk anak berbakat yang telah dikembangkan selama ini umumnya mengabaikan kelompok minoritas seperti orang cacat dan etnis minoritas. Khusus bekal untuk siswi juga kurang memadai.

    Pada tahun 1990-an, sekelompok perwira tinggi ABRI dalam kerja sama dengan perguruan Taman Siswa, mendirikan SMA Taruna Nusantara. Tujuannya adalah mendidik anak-anak yang berbakat unggul dengan menjaring lulusan SMP dari ranking 1 sampai 10. Sekolah ini memberikan kesempatan kepada anak bangsa yang terebar di seluruh Indonesia. Pada tahun 2000-an, pemerintah mencoba mengembangkan program pendidikan untuk anak berbakat dengan alternative program pendidikan akselerasi, yang ditargetkan untuk semua jenjang pendidikan, yaitu SD, SLTP, dan SMU. Program ini tepatnya dimulai pada tahun ajaran 2001 untuk sejumlah SMU dan SLTPProgram pendidikan siswa keberbakatan dibenua Amerika, Eropa, dan Asia memiliki masalah dan kebutuhan khusus. Mereka membutuhkan perhatian dan pembinaan yang tepat untuk mengembangkan bakat dan kemampuanya secara optimal, sehingga mereka dapat memberikan sumbangan yang luar biasa untuk masyarakat.


 

 

 









Minggu, 07 Juni 2020

Apa Itu Virus Corona atau COVID-19 dan Dampaknya Terhadap Psikologi Abnormal


Apa Itu Virus Corona atau COVID-19 dan Dampaknya Terhadap Psikologi Abnormal


Novita Khoirunisa (1807016023)

Psikologi 4A, Fakultas Psikologidan Kesehatan, Universitas Islam Negri Walisongo

Apa Itu Virus Corona atau COVID-19 dan Dampaknya Terhadap Psikologi Abnormal
Virus corona (COVID-19)saat ini telah menginfeksi lebih dari 100 negara di dunia dan mengakibatkan 6.400 orang meninggal dunia. WHO pun telah menyatakan virus Corona sebagai pandemi. Artinya, virus Corona telah menyebar ke hampir seluruh dunia dan populasi dunia kemungkinan akan terkena infeksi dari virus ini. Jadi, sebagian dari populasi dunia akan jatuh sakit. Virus Corona atau COVID-19 adalah virus yang menyerang sistem pernapasan manusia. Virus ini masih berhubungan dengan penyebab SARS dan MERS yang sempat merebak beberapa tahun lalu. Sampai saat ini belum diketahui penyebab dari virus Corona, tetapi diketahui virus ini disebarkan oleh hewan dan mampu menjangkit dari satu spesies ke spesies lainnya, termasuk manusia. Diketahui virus Corona berasal dari Kota Wuhan di China dan muncul pada Desember 2019 Berdasarkan penelitian, bahaya virus Corona bisa menyebabkan kematian. Bahkan, pasien yang terinfeksi dan sembuh akan mengalami kerusakan permanen pada paru-paru dan antibodi. Virus Corona muncul dengan beberapa gejala yang berbeda-beda pada tubuh pasiennya. Namun, secara umum, gejala virus Corona adalah flu, demam, batuk, hingga sesak napas. Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk mengobati virus Corona. Namun, tercatat ada beberapa orang yang telah sembuh dari virus Corona setelah menjalani isolasi serta perawatan di rumah sakit. Di Indonesia, misalnya, per 23 Maret 2020, pemerintah mengklaim telah ada 29 orang yang sembuh dari virus corona. Hal itu didasari dua kali pemeriksaan spesimen tidak ditemukan kembali virus Corona dalam tubuh.
Pada dekade 1990-an prediksi di bidang kesehatan umumnya menyebutkan akan meningkatnya penyakit degeneratif yang disebabkan oleh perubahan gaya hidup manusia. Dan di sisi lain akan ada penurunan penyakit menular, karena makin canggihnya ilmu kedokteran dan farmasi dalam penemuan obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Prediksi itu tampaknya benar di beberapa sisi, di mana penyakit degeneratif, seperti diabetes, serangan jantung koroner, lemak darah, kegemukan, stroke, dan berbagai jenis kanker, memang menunjukkan jumlah penderita penyakit degeneratif meningkat. Tentang penyakit menular yang umumnya disebabkan oleh mikroorganisme, memang mulai bisa diatasi, seperti diare, demam berdarah, polio, cacar, tuberkulosis, lepra, dan lainnya. Bahkan beberapa negara maju disebutkan telah bebas dari berbagai penyakit itu. Namun demikian, belakangan ini, ada hal-hal yang berada di luar kalkulasi ketika itu, yang membuat prediksi itu agak buram dan perlu lebih banyak dipertimbangkan, terutama di mana perubahan gaya hidup manusia  sepertinya berada di ruang yang berbeda dengan transmisi penyakit penularan.
Munculnya virus corona jenis baru yang sekarang mengguncang dunia, harus menjadi pertimbangan mengenai kebijakan kesehatan masyarakat, bukan hanya bagi satu negara, tetapi kemungkinan secara global. Bahwa dunia sekarang menyaksikan meningkatnya penyakit degeneratif, tetapi juga penyakit menular baru yang penyebarannya makin cepat, dan mematikan. Ini terjadi mengingat bahwa mobilitas manusia terus meningkat. Kalau ditelusuri munculnya penyakit menular baru, terutama yang disebabkan oleh berbagai jenis virus, banyak yang diduga berasal dari virus yang sebelumnya hidup di dalam tubuh binatang, bahkan dari satwa liar. Loncatan itu terjadi sebagai konsekuensi kontak yang makin intensif; manusia di bumi ini terus mendesak bumi dengan populasi yang meningkat, menggusur habitat hutan alam dan satwa liar. Manusia dengan pengetahuan dan teknologinya terus mengeksplorasi, tetapi lebih-lebih mengekspoitasi alam, bahkan melakukannya tanpa dasar pengetahuan yang memadai. Konflik manusia dengan satwa liar terus terjadi, karena situasi ini. Dan sebaliknya satwa liar banyak juga yang karena kehilangan habitat aslinya, mulai masuk di tengah lingkungan manusia. Kontak manusia dengan satwa juga terus meningkat, bukan hanya di peternakan, tetapi juga dengan satwa liar, karena perburuan untuk konsumsi atau dijadikan binatang peliharaan, bahkan dijadikan obat, sekalipun sering alasannya tidak rasional.
Kerakusan manusia tampaknya harus dipersalahkan dengan munculnya penyakit baru yang membuat kepanikan di dunia ini. Kasus SARS tahun 2003 dan virus corona tahun 2020 ini, dengan fokus kota-kota China, di mana perdagangan satwa liar untuk konsumsi dan pengobatan sangat populer, dan mungkin terpopuler di dunia, adalah alasan yang kuat untuk menuding perilaku manusia. Dan tentu saja, contoh yang paling nyata dari risiko eksploitasi alam yang berlebihan. Eksploitasi satwa liar ini bahkan sering dibungkus dengan mitos yang naif, sebagai makanan “ajaib” untuk vitalitas, atau obat “mujarab.” Di Indonesia, perdagangan satwa liar untuk konsumsi, pengobatan dan dijadikan binatang peliharaan juga terus terjadi, dan tampaknya ada kecenderungan meningkat. Negara ini memang belum mengalami kasus seperti wabah ebola, SARS dan virus corona ini. Meski demikian, tidak bisa kehilangan kewaspadaan akan potensi ancaman ini. Jadi, tentang munculnya penyakit menular baru pusat persoalannya ada pada perilaku kita terhadap habitat satu-satnya bagi manusia, Planet Bumi. Maka bukan kebetulan bahwa kasus virus corona ini  muncul nyaris bersamaan dengan krisis akibat perubahan iklim yang ditandai dengan banjir, kekeringan, dan kebakaran. Juga bersamaan dengan ketika bumi diterpa krisis sampah plastik, dan pencemaran udara akibat penggunaan berlebihan bahan bakar fosil. Dunia tampaknya masih akan melihat masalah-masalah lain seperti virus corona dan krisis lingkungan lainnya, dan frekuensinya mungkin makin tinggi, ketika perubahan perilaku manusia tehadap lingkungan tidak berubah menjadi lebih ramah dan bersifat pemelihara, ketimbang menjarah.
Lantas, apa dampaknya terhadap psikologi abnormal?
Pada awal sebelum Presiden Jokowi menyatakan ada warga Indonesia yang positif terjangkit virus corona, masyarakat Indonesia lebih dominan memiliki rasa cemas. Mengapa? Sebab rasa cemas ini sendiri merupakan suatu yang irasional dan objek ketakutan atas wabah virus corona di Indonesia belum terbukti dan nyata.  Namun kondisi kecemasan itu kini berubah menjadi ketakutan. Sebab rasa takut merupakan suatu yang rasional, karena sudah memiliki objek ketakutan yang jelas dan nyata. Yaitu, wabah virus corona sudah terjadi di Indonesia. Sebenarnya rasa cemas dan ketakutan pada diri masyarakat atas wabah virus corona suatu yang manusiawi. Namun hal ini jika tidak diatasi, secara psikologi akan menimbulkan disorganisasi dan disfungsi sosial di masyarakat. Mengapa? Perlu dipahami, ciri otentik dari masyarakat adalah kedinamisan dalam perubahan di tatanan sosialnya saat mendapat stimulus tertentu – dalam hal ini rasa takut atas wabah virus corona.  Kondisi perubahan ini bersifat interpenden. Artinya,  sulit untuk dapat membatasi perubahan - perubahan pada masyarakat karena masyarakat merupakan mata rantai yang saling terkait.  Oleh karena itulah, diorganisasi dan disfungsi sosial menjadi suatu keniscayaan.  Disorganisasi pada masyarakat akan mengarah pada situasi sosial yang tidak menentu. Sehingga dapat berdampak pada tatanan sosial di masyarakat. Wujud nyatanya berupa prasangka dan diskriminasi. Hal ini bisa dilihat dari berbagai pemberitaan di media mengenai reaksi masyarakat saat ada warga Indonesia positif terjangkit virus corona. Misalnya, ada masyarakat yang mulai membatasi kontak sosialnya untuk tidak menggunakan angkutan umum, transportasi online, dan menghindari berinteraksi diruang sosial tertentu (seperti pasar dan mall) karena khawatir  tertular virus corona.
Prasangka masyarakat ini tentu memiliki alasan logis. Sebab dalam perspektif epidemiologi, terjadinya suatu penyakit dan atau masalah kesehatan tertentu disebabkan karena adanya keterhubungan antara pejamu (host) – dalam hal ini manusia atau makhluk hidup lainnya, penyebab (agent) – dalam hal ini suatu unsur, organisme hidup, atau kuman infektif yang dapat menyebabkan terjadinya suatu penyakit, dan lingkungan (environment) – dalam hal ini faktor luar dari individu yang dapat berupa lingkungan fisik, biologis, dan sosial.  Kenneth J. Rothman dkk. (2008) dalam buku “Modern Epidemiology” menjelaskan bahwa kondisi keterhubungan antara pejamu, agen dan lingkungan adalah suatu kesatuan yang dinamis yang jika terjadi gangguan terhadap keseimbangan hubungan diantaranya, inilah yang akan menimbulkan kondisi sakit. Berawal dari prasangka, akhirnya dapat muncul sikap diskriminasi. Sikap diskriminasi yang paling nyata terjadi berupa kekerasan simbolik. Misal, saat individu X berada di ruang sosial tertentu tiba – tiba melihat ada individu Y yang berada di dekatnya bersin-bersin dan batuk, individu X tiba – tiba segera menjauh karena merasa kuatir individu Y terjangkit virus corona. Padahal individu Y hanya mengalami flu biasa.  Sikap diskriminasi lainnya lagi, seperti tidak mau menolong orang lain secara kontak fisik dengan orang yang diduga terjangkit virus corona.
Selain disorganisasi sosial, disfungsi sosial juga terjadi akibat rasa takut atas wabah virus corona. Disfungsi sosial membuat seseorang atau kelompok masyarakat tertentu tidak mampu menjalankan fungsi sosialnya sesuai dengan status sosialnya. Hal yang paling nyata bisa kita lihat dibeberapa pemberitaan media atas reaksi para tenaga kesehatan (perawat dan dokter) yang mulai mengalami rasa takut akan terjangkit virus corona saat mereka memberikan pelayanan perawatan (caring) maupun pengobatan (curing) pada pasien yang diduga bahkan terjangkit virus corona. Rasa takut ini membuat para tenaga kesehatan tidak maksimal menjalankan fungsi sosialnya. Contoh lainnya lagi, individu sebagai makhluk sosial mulai membatasi kontak sosialnya dengan tidak mau menolong orang yang belum tentu positif terjangkit virus corona. Disfungsi sosial membuat individu justru mengalami gangguan pada kesehatannya. Dalam perspektif sosiologi kesehatan, kondisi sehat jika secara fisik, mental, spritual maupun sosial dapat membuat individu menjalankan fungsi sosialnya. Jika kondisi sehat ini terganggu – dalam kasus ini terganggu sosialnya. Tentu individu ini dinyatakan sakit. Kondisi sakit di sini sebagaimana yang dikemukakan Talcott Parsons (1951) dalam bukunya “The Social System”, bahwa ia tidak setuju dengan dominasi model kesehatan medis dalam menentukan dan mendiagnosa individu itu sakit. Bagi Parsons, sakit bukan hanya kondisi biologis semata, tetapi juga peran sosial yang tidak berfungsi dengan baik. Parsons melihat sakit sebagai bentuk perilaku menyimpang dalam masyarakat. Alasannya karena orang yang sakit tidak dapat memenuhi peran sosialnya secara normal dan karenanya menyimpang dari norma merupakan suatu yang konsensual.

Bukan Kamu yang Terlambat, Kamu Hanya Berjalan di Waktu yang Berbeda

  Pernah gak sih, kamu scroll media sosial… lalu tiba-tiba merasa hidupmu tertinggal jauh? Mereka sudah lulus. Sudah kerja. Sudah menikah...