Resume Materi Mata Kuliah Psikologi Keberbakatan oleh Novita Khoirunisa (1807016023)
Istilah tentang anak berbakat, telah
dikemukakan oleh Plato lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Plato menggambarkan
bahwa pada masa itu ada sekelompok orang yang disebut berbakat, dan mereka ini
adalah merupakan Men of gold. Adapun mereka yang termasuk dalam kelompok
"manusia emas" ini adalah orang yang mempunyai taraf intelektual
superior. Tujuan
dari klasifikasi tersebut adalah untuk mencari bibit unggul dan kemudian
diberikan suatu pendidikan khusus, sehingga mereka mampu untuk menjadi pemimpin
yang diunggulkan. Pada masa lalu berbakat diartikan sebagai orang yang mempunyai tingkat
kecerdasan yang tinggi, jadi dilihat dari skor yang diperoleh dari tes
inteligensi.
Secara tradisional pengertian tentang keberbakatan adalah mendasarkan
inteligensi umum (general intelligence) sebagaimana yang diukur oleh tes
inteligensi.
Gifted and talented children adalah anak yang diidentifikasi oleh orang-orang yang berkualifikasi profesional sebagai anak yang memiliki kemampuan luar biasa. Mereka menghendaki program pendidikan yang sesuai atau layanan melebihi sebagaimana diberikan secara normal oleh program sekolah regular, sehingga dapat merealisasikan kontribusi secara bermakna bagi diri dan masyarakatnya.Gifted atau cerdas istimewa, merupakan istilah yang diberikan untuk menjelaskan kondisi seseorang yang memiliki kemampuan atau potensi melakukan sesuatu jauh di atas rata-rata dari orang seusianya. Dengan batasan IQ di atas 130, dengan kreativitas, motivasi dan ketahanan kerja yang tinggi. Adapun talented atau berbakat istimewa, tidak mengacu pada batasan inteligensi di atas 130. Namun, talented mempunyai salah satu atau beberapa bidang prestasi yang menonjol, yang melebihi rata-rata, yang tidak selalu dalam bidang akademis.
Guru berperan untuk mengidentifikasi sumber stres dan berbincang-berbincang mengenai kesulitan yang dihadapi oleh siswa gifted. Pada permasalahan hubungan dengan sebaya, guru BK (Bimbingan Konseling) membuat terobosan yang baik berupa menampung keluh kesah para siswa di kelas CI (Cerdas Istimewa) melalui akun media sosial. Selain adanya media sosial, BK memberikan materi-materi yang bertujuan untuk mengkaji permasalahan-permasalahan yang mungkin dihadapi oleh siswa yakni memberikan bimbingan sosial, bimbingan karir, serta bimbingan bagi siswa yang memiliki kesulitan belajar.
Masalah yang dihadapi dan Cara Mengatasinya
Dalam pengertian yang lebih luas, individu yang berprestasi kurang (underachiever) adalah individu yang tak bermotivasi. Mereka secara konsisten tidak menunjukkan usaha, bahkan mereka cenderung bekerja jauh di bawah potensinya. Masalah yang dialami Anak Underachiever (Aprilnayendi, 2015) Menemukan secara berulang-ulang konsep diri yang negative (1) Merasa tidak diterima keluarga (2)Tidak bertanggung jawab terhadap perilakunya (3) Menantang pengaruh yang diberikan oleh oranglain (4) Merasa jadi korban (5) Memiliki sikap negatif terhadap sekolah (6) Memiliki motivasi dan keterampilan akademik yang lemah (7) Kurang dalam penyelesaian intelektual (8) Berpegang teguh pada status kepemimpinan yang rendah (9) Tidak memiliki hobi, minat dan kreativitas yang dapat digunakan dalam mengisi waktu luang (10) Tidak mampu berpikir dan merencanakan masa depan. “Anak dengan motivasi belajar rendah adalah anak yang tidak memiliki dorongan dalam diri dalam melakukan kegiatan belajar dan tidak adanya arahan perbuatan belajar serta proses yang memberi semangat, sehingga anak tersebut tidak dapat mencapai tujuan yang dikehendaki.”Ciri-Ciri Motivasi Belajar Rendah (suhaimin) ;(Jarang mengerjakan tugas, mudah putus asa, kurang ada dorongan dalam diri, kurang semangat belajar, tidak senang memecahkan soal-soal, tidak mempunyai tujuan dalam belajar.)
Kebutuhan pendidikan anak ditinjau dari minat anak pengembangan itu
sendiri, yaitu yang berhubungan dengan potensinya yang hebat. Untuk mewujudkan
potensi hebat itu, anakanak mempunyai peluang untuk mencapai aktualisasi
potensi yang dimilikinya dengan menggunakan fungsi otak, peluang untuk
membangun kreativitas dan motivasi internal untuk belajar berprestasi. Dari
segi kepentingan masyarakat, anak yang membutuhkan kepedulian, pengakomodasian,
perwujudan lingkungan yang kaya dengan pengalaman, dan layanan anakanak untuk
berlatih secara nyata. Menurut Baum, 2007 (dalam Yaumi & Ibrahim, 2013)
anak dengan twice exceptionality sebagai individu muda yang sama seperti
anak-anak berbakat lainnya, memiliki pengetahuan yang luas, intelegensi yang
tinggi dan memiliki bakat dalam hal-hal tertentu. Kemudian menurut Olenchack
dan Owen, 2007 (dalam Yaumi & Ibrahim, 2013) menjelaskan anak-anak dengan
twice exceptionality sebagai anak-anak yang berbakat dan memiliki tingkat kreativitas
yang tinggi, namum selalu diikuti oleh kesulitan dalam memberikan perhatian. Anak-anak berbakat dengan keluar biasaan ganda
atau sering disebut dengan dual exceptionality/twice exceptionality yang sudah
dijelaskan sebelumnya merupakan anak berbakat yang pada saat bersamaan juga
diidentifikasi sebagai anak yang memiliki kebutuhan khusus. Mereka memiliki
kualitas keistimewaan yang tinggi tetapi diikuti oleh kesulitan-kesulitan dalam
belajarnya. Namun menurut Baum dalam Zaitun (2017) anak yang twice
esceptionally yang juga memiliki kebutuhan lain seperti tuli dan buta tidak
dapat dikategorikan sebagai kesulitan belajar selama kekurangan tersebut tidak
tidak menghambat anak untuk mencapai prestasi akademis yang tinggi ataupun
menghasilkan karyakarya yang luar biasa.
Dr. Howard
Gardner, seorang psikolog dan profesor ilmu saraf dari Universitas Harvard,
mengembangkan teori Multiple Intelligences (MULTIPLE INTELLIGENCE) pada tahun
1983. Harold Gardner, telah mengidentifikasi tujuh jenis intelijen. Ini
termasuk linguistik, logika / matematika, verbal / spasial, musikal, tubuh /
kinestetik, kemampuan interpersonal, dan intrapersonal Konsep terdistribusi
kecerdasan dalam teori Gardner tentang Kecerdasan Ganda yang meliputi
kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musical dan kecerdasan interpersonal.Kecerdasan
dapat didefinisikan sebagai : kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang
terjadi dalam kehidupan nyata; kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan
baru untuk diselesaikan, kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan
jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.
Teori
MULTIPLE INTELLIGENCE adalah teori fungsi kognitif dan menurut Howard Gardner,
Multiple Intellegences memiliki karakteristik yang berbeda sebagai berikut:
- Setiap orang memiliki kapasitas
kecerdasan
- Setiap orang mampu
mengembangkan kecerdasan
- Kecerdasan bekerja secara
kompleks
- Kecerdasan itu bertahap
Menurut
Gardner, kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggunakan tubuh atau gerak
tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Kecerdasan Kinestetik-jasmani memungkinkan
individu menggunakan seluruh atau sebagian tubuh untuk berkreasi dalam
mengahasilkan sebuah produk atau memecahkan masalah. Kecerdasan Musikal adalah kemampuan
mempersiapkan, membedakan dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan
ini melibatkan kepekaan ritme, melodi, dan bunyi musik lainnya dari sesuatu
ciptaan musik. Kecerdasan Interpersonal adalah suatu kemampuan
individu dalam mengamati dan memahami maksud, motivasi, dan perasaan orang
lain. Peka terhadap ekspresi wajah, suara, dan gerakan tubuh orang lain serta
mampu berkomunikasi secara efektif. Kecerdasan Interpersonal ini dapat masuk ke
dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap
orang lain dan biasanya mampu memimpin dalam sebuah kelompok.
Teori Multiple Intelligences adalah teori
kecerdasan yang membedakan kecerdasan menjadi lebih spesifik, dibandingkan
dengan sebelumnya yang melihat kecerdasan sebagai kemampuan umum, sehingga
sering disebut sebagai “factor g”. Gardner mengidentifikasikan bukan dua
kecerdasan (verbal dan numerikal), akan tetapi sembilan kecerdasan yang
berbeda, yaitu: Linguistik, Logika matematika, Spasial, Kinesthetik-jasmani,
Musikal, Interpersonal, Intrapersonal dan Naturalis. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan
untuk memahami maksud dan perasaan orang lain sehingga tercipta hubungan yang
harmonis dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal penting dalam kehidupan
manusia karena pada dasarnya manusia tidak bisa menyendiri
Karakteristik orang yang memiliki
kecerdasan interpersonal
-
Belajar dengan sangat baik ketika berada dalam
situasi yang membangun interaksi antara satu dengan yang lainnya.
-
Semakin banyak berhubungan dengan orang lain,
semakin merasa bahagia.
-
Sangat produktif dan berkembang dengan pesat
ketika belajar secara kooperatif dan kolaboratif.
-
Ketika menggunakan interaksi jejaring sosial,
sangat senang dilakukan dengan chatting atau teleconference.
Kecerdasan naturalis adalah keahlian mengenali dan
mengkatagorikan spesies yaitu flora dan fauna di lingkungan sekitar, mengenali
keberadaan spesies, memetakan hubungan antar spesies. Kecerdasan ini juga
meliputi kepekaan pada fenomena alam lainnya(misalnya:formasi awan dan
gunung-gunung), dan bagi mereka yang dibesarkan di lingkungan perkotaan,
kemampuan membedakan benda tak hidup, seperti mobil, sepatu karet, dan sampul
kaset cd, dan lain-lain.
Menurut Gardner, kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggunakan tubuh
atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan. Menurut Gardner,
inteligensi ini menyoroti kemampuan untuk menggunakan seluruh badan (atau
bagian dari badan) dalam membedakan berbagai cara, baik untuk ekspresi gerak
(tarian, akting) maupun aktivitas bertujuan (atletik). Atlet, ahli bedah,
penari, koreografer, dan pengrajin semuanya menggunakan kecerdasan
tubuh-kinestetik. Kecerdasan Musikal adalah kemampuan
mempersiapkan, membedakan dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan
ini melibatkan kepekaan ritme, melodi, dan bunyi musik lainnya dari sesuatu
ciptaan musik. Termasuk dalam kecerdasan ini adalah memiliki kemampuan
pemahaman musik, baik pemahaman dari atas kebawah atau sebaliknya ataupun
kedua-duanya (global ataupun intuitip, ataupun dalam analitik dan teknikal).
Menurut Thomas Armstrong, kecerdasan linguistik atau word smart
adalah suatu kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif. Dalam kegiatan
pembelajaran di sekolah, menurut Thomas Armstrong, memperlihatkan bahwa
kecerdasan linguistik ini mencakup sedikitnya dua pertiga bagian dari interaksi
belajar-mengajar yang mencakup kegiatan 184 membaca dan menulis. Selain itu,
kecerdasan linguistik juga berkaitan dengan kemampuan berbicara. Dalam hal ini,
kecerdasan linguistik nampak pada para orator, pelawak, selebriti radio, atau
politisi yang sering menggunakan kata-kata untuk memanipulasi dan mempengaruhi.
Kecerdasan Logika-Matematika menurut Yaumi (2012)
adalah kemampuan yang berkenaan dengan rangkaian alasan, mengenal pola-pola dan
aturan. Kemampuan ini sering disebut berpikir kritis.
Kecerdasan
visual-spasial adalah kemampuan untuk membayangkan suatu hasil akhir, berpikir sistematis,
mengimajinasikan sesuatu, memahami konsep arah, dll. Kecerdasan visual-spasial
berkaitan dengan kemampuan menangkap warna, arah, dan ruang secara akurat serta
mengubah penangkapannya tersebut ke dalam bentuk lain seperti dekorasi,
arsitektur, lukisan, patung.
PENERAPAN METODE YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK PENELUSURAN ANAK BERBAKAT
Pengertian identifikasi Merupakan satu proses mengenali anak-anak yang memiliki kemampuan motivasi, konsep diri, dan potensi kreativitas yang berada jauh diatas rata-rata. Proses pengumpulan informasi/data tentang penampilan individu yang relevan untuk pembuatan keputusan. Alat-alat yang digunakan dalam identifikasi berfokus pada beberapa hal, seperti yang dikemukakan oleh Kirk (1986), yaitu kelancaran (kemampuan untuk memberikan jawaban bagi pertanyaan yang diberikan), kelenturan (kemampuan untuk memberikan berbagai macam jawaban atau beralih dari satu macam respons ke respons yang lain), dan kemurnian (kemampuan untuk memberikan respons yang unik dan layak). Namun, hal-hal yang ditemukan oleh guru, orang tua, perlu dicek dengan tes standar dan pengukuran kemampuan objektif lainnya oleh para ahli dalam bidang tersebut.
Dalam identifikasi, memiliki prinsip dilakukan secara multidimensional dengan cara pengukuran yang beragam, mengukur bakat khusus, identifikasi potensi (yang belum tampil), serta mengukur aspek lain (perkembangan sosial, emosional, minat, motivasi). Salah satu cara yang digunakan untuk mengidentifikasi apakah anak atau siswa merupakan anak yang berbakat dapat dilakukan oleh Psikolog dengan cara Assesment. Untuk melakukan sebuah Assesment terlebih dahulu dilakukan screening, setelah mengetahui hasil dari screening tersebut selanjutnya baru dilakukan assessment baik terkait dengan kemampuan kecerdasan umum, bakat skolastik dan bakat lainnya, maupun tingkat kreativitas dan komitmen akan tugas. Assessmen dilakukan dengan menggunakan tes dan instrumen terstandar, di antaranya digunakan tes inteligensi, tes bakat skolastik, tes bakat, tes kreativitas, dan inventori komitmen akan tugas. Sebagian besar tes tersebut lebih bersifat individual.
Professional guru, ; Guru profesional adalah guru yang dapat mencerdaskan para siswanya sesuai dengan potensi atau kemampuannya. Guru adalah ujung tombak dalam pembelajaran dan sangat besar peranannya dalam ikut menghantarkan keberhasilan para peserta didik. Guru profesional bukan guru yang hanya mampu menguntungkan dirinya namun siswanya tidak. Untuk itu, seorang guru memiliki kemampuan mengidentifikasi dan mengenali kemampuan peserta didiknya merupakan kewajiban yang sangat penting.
Menurut Swassing (1985), identifikasi mempunyai dua konsep yaitu konsep penyaringan (screening) dan identifikasi aktual (actual identifikcation). Mengidentifikasi masalah berarti mengidentifikasi suatu kondisi atau hal yang dirasa kurang baik. Masalah pada anak ini diperoleh dari keluhan-keluhan orang tua dan keluarganya, keluhan guru, dan bisa didapat dari pengalamanpengalaman lapangan, Seperti dikatakan oleh Norman D.Sundberg (2002) dalam Tin Suharmini (2005). ”Gathering informastion to be used for treatment (parents teachers,and physician) provide data on the childs functioning”. Identifikasi dapat dilakukan oleh orangorang yang dekat (sering berhubungan/bergaul) dengan anak, seperti orang tuanya, pengasuhnya, gurunya, dan pihak-pihak lain. Dalam rangka pendidikan inklusi, kegiatan identifikasi anak dengan kebutuhan khusus dilakukan untuk lima keperluan, yaitu: penjaringan (screening) pengalihtanganan (referal) klasifikasi perencanaan pembelajaran pemantauan kemajuan belajar.
Di sekolah Finlandia, anak berbakat berhak
untuk mulai bersekolah satu tahun lebih awal dari biasanya jika diperlukan
untuk belajar (UU No. 628 §27). Selain itu, siswa dapat menerima pengajaran
dalam mata pelajaran selain yang ditentukan dalam kurikulum nasional. Studi ini
sebagian bisa bersifat sukarela (UU No. 628 §11). Di dalam sekolah,
Finlandia menawarkan berbagai ketentuan yang dapat dimanfaatkan oleh siswa
berbakat. Orang tua dapat memutuskan apakah anak mereka akan mulai atau tidak
sekolah pada usia enam atau tujuh tahun, melompat-lompat kelas, berbagi kelas
dengan nilai yang lebih tinggi, akselerasi berdasarkan kelompok, lokakarya,
kerjasama dengan perusahaan atau organisasi nirlaba, ekstra kurikuler kegiatan,
mentor individu dan belajar mandiri.
SPANYOL
Kursus khusus tentang pendidikan berbakat menjadi kewajiban di dasar
kurikulum untuk pelatihan guru dan pelatihan psikolog. Selain itu, adanya
program pelatihan guru tetap diperlukan, untuk mengkomunikasikan pengajaran
didaktik keterampilan sehingga guru mampu memenuhi keragaman di kelas. Kurikulum
khusus dan materi sekolah untuk anak-anak berbakat untuk dikembangkan. Jenis ketentuan
khusus seperti "berbagi kelas dengan nilai yang lebih tinggi",
"berdasarkan kelompok percepatan ". Program dan bekal untuk anak
berbakat yang telah dikembangkan selama ini umumnya mengabaikan kelompok
minoritas seperti orang cacat dan etnis minoritas. Khusus bekal untuk siswi
juga kurang memadai.
Pada tahun 1990-an, sekelompok perwira tinggi ABRI dalam kerja sama dengan perguruan Taman Siswa, mendirikan SMA Taruna Nusantara. Tujuannya adalah mendidik anak-anak yang berbakat unggul dengan menjaring lulusan SMP dari ranking 1 sampai 10. Sekolah ini memberikan kesempatan kepada anak bangsa yang terebar di seluruh Indonesia. Pada tahun 2000-an, pemerintah mencoba mengembangkan program pendidikan untuk anak berbakat dengan alternative program pendidikan akselerasi, yang ditargetkan untuk semua jenjang pendidikan, yaitu SD, SLTP, dan SMU. Program ini tepatnya dimulai pada tahun ajaran 2001 untuk sejumlah SMU dan SLTP. Program pendidikan siswa keberbakatan dibenua Amerika, Eropa, dan Asia memiliki masalah dan kebutuhan khusus. Mereka membutuhkan perhatian dan pembinaan yang tepat untuk mengembangkan bakat dan kemampuanya secara optimal, sehingga mereka dapat memberikan sumbangan yang luar biasa untuk masyarakat.











Komentar
Posting Komentar