Kemarin, mungkin mereka masih berangkat seperti biasa.
Duduk tenang di kursi,
menatap jendela yang bergerak perlahan,
memikirkan hal-hal sederhana yang sering kita anggap remeh.
Tidak ada firasat.
Tidak ada tanda.
Hanya perjalanan…
yang disangka akan pulang seperti biasa.
Namun hidup, kadang tidak memberi kita kesempatan untuk bersiap.
Dalam satu detik,
semua bisa berubah.
Kecelakaan itu bukan hanya tentang apa yang terjadi di rel.
Ia juga mengetuk sesuatu yang diam di dalam diri kita,
tentang betapa rapuhnya hidup yang selama ini kita kira baik-baik saja.
Kita hidup seolah punya banyak waktu.
Menunda kata maaf.
Menunda kata sayang.
Menunda hadir sepenuhnya.
Seolah-olah besok pasti menunggu.
Padahal, tidak ada yang benar-benar pasti.
Dan ketika kabar itu sampai pada kita,
hati kita ikut terguncang,
meski kita tidak ada di sana.
Dalam psikologi, itu disebut vicarious trauma—
luka yang terasa,
meski kita hanya mendengar ceritanya.
Tiba-tiba kita cemas.
Takut.
Diam-diam memikirkan hal yang sama berulang kali.
Itu bukan lemah.
Itu manusia.
Otak kita memang diciptakan untuk mengingat hal buruk lebih lama,
sebuah naluri bertahan yang disebut negativity bias.
Di tengah semua itu,
kita sering ingin mencari siapa yang harus disalahkan.
Seolah dengan menemukan jawaban,
hati kita bisa sedikit lebih tenang.
Padahal, tidak semua hal bisa dijelaskan dengan sederhana.
Tidak semua peristiwa bisa kita rangkum menjadi “ini salah siapa”.
Kadang, hidup hanya… terjadi.
Dan dalam diam,
kita belajar satu hal yang tidak mudah menerima.
Bukan berarti kita tidak peduli.
Bukan berarti kita berhenti merasa.
Tapi karena terus menyalahkan
tidak akan mengembalikan apa yang sudah pergi.
Yang tersisa hanyalah bagaimana kita melanjutkan hidup
dengan hati yang lebih sadar.
Bahwa waktu itu terbatas.
Bahwa kehadiran itu berharga.
Bahwa tidak semua hal bisa ditunda.
Kalau hari ini kamu masih di sini,
masih diberi kesempatan bernapas,
mungkin itu bukan kebetulan.
Mungkin itu pengingat.
untuk hidup lebih sungguh-sungguh.
Jadi, kalau masih ada waktu…
ucapkan yang belum sempat diucapkan.
peluk yang masih bisa dipeluk.
dan hadir,
sepenuhnya…
sebelum semuanya berubah
menjadi kenangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar